Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba
Menghindari Perkelahian Pelajar
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah
mempelajarari materi ini, kalian dapat:
1. Memecahkan
masalah perkelahian antarpelajar, minuman keras (miras), narkoba dalam
perspektif Islam.
2. Membuat
konten tentang cara mengatasi masalah perkelahian antarpelajar, miras dan
narkoba, serta diposting di media sosial,
3. Meyakini
bahwa agama melarang melakukan perkelahian antarpelajar, dan melakukan
perusakan fasilitas umum, minuman keras, dan narkoba.
4. Membiasakan
sikap taat pada aturan, peduli sosial, tanggung jawab dan cinta damai.
B. Kisah
Inspiratif
Memilih Hidup Wahai anakku! Hidup
ini memang memilih, dan setiap pilihan pasti diminta pertanggungjawaban. Di
sela-sela beraktifitas, kalian dapat memilih kegiatan positif (misalnya rajin
menuntut ilmu, berolah raga, berteman dengan yang baik-baik saja, atau ikut
kegiatan keagamaan) maupun negatif (terlibat perkelahian, sering dugem dan
miras, bahkan narkoba. Hanya harus disadari dan menjadi pengingat bagi semua,
yakni akibat yang ditimbulkan sebagai konsekuensi pilihan yang diambil. Kalian
bisa lihat sendiri, betapa banyak keterpurukan dan kehancuran hidup, akibat
perkelahian dan tawuran, terlibat dalam miras dan narkoba. Itu baru sanksi
dunia. Bagaimana nasib kalian di akhirat? Tidak terbayangkan kan! Semua itu,
semestinya dapat menahan kita dari berbuat yang tidak benar, meskipun ada
kebebasan memilih kemana langkah kaki harus diarahkan, tetapi jangan salah
memilih hidup. Orang bijak menyampaikan, hidup itu perjuangan yang harus
dimenangkan, bukan terpuruk di jeruji penjara, badan kurus kering, karena narkoba,
atau miras yang menghempaskan cita dan asa bagi diri sendiri, keluarga, bangsa
dan negara. Karena itu, miliki cita dan asa yang besar, berpikir yang maju!
Sebenarnya Allah Swt, telah menjadikan keberadaan kita ini sebagai bibit
unggul, sehingga jangan sampai menjadi orang yang kalah, gagal dan terpuruk.
Semestinya, setiap langkah yang diayunkan, usahakan merupakan langkah menuju
kesuksesan dan kemenangan.
Perhatikan sekitar kalian! Ada
rekan, sahabat, atau anggota keluarga yang derajat dan martabatnya naik turun,
akibat pilihan hidupnya. Itulah hidup. Kenapa naik, karena kesesuaian hidupnya
dengan aturan Allah Swt. dan prinsip hidup yang dijalani memang benar.
Sebaliknya kenapa turun, karena hidup yang dijalani tidak sesuainya dengan
aturan dan norma hidup.
Diadaptasi dari: Yesi
Elsandra/yelsandra@yahoo.com Sumber: eramuslim
1.
Perkelahian Antarpelajar
a. Pelajar yang
dicari Islam
Islam itu menyelamatkan dan mendamaikan
dunia, (termasuk bagi para pelajar), bukan membuat keonaran, perilaku
menyimpang, apalagi melakukan tawuran dan perkelahian. Islam itu juga datang
dengan solusi, bukan menambah problema. Tatap dunia ini dengan jernih, maka
kalian akan mendapatkan jalan hidup yang menakjubkan dan mencengangkan.
Di dunia pendidikan, khususnya
para pelajar, sudah banyak tinta emas ditorehkan oleh para pelajar muslim
dengan segenap prestasi yang diraihnya. Kenapa mereka bisa begitu? Jawabannya
karena Islam mengilhami dan menginspirasi seluruh tatanan hidupnya, agar hidup
itu bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Seperti yang disabdakan oleh
Rasulullah Saw., yakni: Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak
manfaatnya untuk orang lain.
Prestasi itu tidak hanya berupa
capaian yang memiliki level dunia, nasional, provinsi atau kabupaten kota,
tetapi hidup dengan benar berlandaskan ajaran Islam bagi diri dan lingkungan
terkecil, termasuk di sekolah juga, merupakan prestasi yang membanggakan. Buat
apa berprestasi besar, sementara shalat tidak dilaksanakan. Tampan bukan main,
bahkan menjadi rebutan para gadis, tetapi tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan benar.
Buat apa berkelahi dan terlibat
tawuran, apa untungnya? Tidak ada kan! Bahkan kerugian yang didapatkan,
termasuk sanksi akhirat sudah menunggu. Dunia ini penuh problema, jangan
ditambah lagi dengan cara melarikan diri dari masalah. Jika ada masalah, cari
solusinya tahap demi tahap, jika belum juga selesai, tetaplah optimis seraca
memohon kepada Allah agar memberikan solusi terbaik, tetap bersandar kepada
Allah Swt. Apapun keadaannya, susah senang dan sedih gembira selalu bersama
Allah Swt. Jika itu bisa kalian lakukan, niscaya dunia akhirat sudah berada di
genggaman kalian.
b. Definisi
Perkelahian dan Tawuran Pelajar
Ada beberapa istilah yang sering
dipakai untuk mengidentifikasi perilaku menyimpang yang biasanya dilakukan oleh
pelajar, yaitu perkelahian dan tawuran. Keduanya bagian dari problema dunia
pendidikan, utamanya terjadi di kota-kota besar, dan harus dicari solusi yang
tepat, agar perilaku ini tidak dijadikan kebiasaan yang lumrah sebagai bagian
dari kenakalan pelajar atau remaja.
Perkelahian antarpelajar atau
remaja adalah suatu bentuk tindakan kekerasan atau agresi yang dilakukan oleh
suatu kelompok pelajar dengan kelompok pelajar lain yang berusaha untuk
menyingkirkan pihak lawan dengan menghancurkan atau membuat pihak mereka tidak
berdaya. Sementara makna dari tawuran pelajar adalah perkelahian yang melibatkan
banyak pelajar, atau perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana
perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang berstatus sebagai
pelajar. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja
digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile
delinquency).
Kenakalan pelajar atau remaja,
menurut Sarlito W. Sarwono adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa
yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa
jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai
hukuman.
Kenakalan remaja, termasuk
perkelahian pelajar, dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Delikuensi
Situasional,
yakni perkelahian terjadi karena adanya situasi yang mengharuskan mereka untuk
berkelahi. Keharusan itu biasanya dipicu adanya kebutuhan untuk memecahkan
masalah secara tepat.
2. Delikuensi
Sistematik,
yakni: para pelajar yang terlibat dalam perkelahian itu berada di dalam suatu
organisasi tertentu atau geng yang memiliki aturan dan kebiasaan tertentu yang
harus diikuti oleh anggotanya, termasuk berkelahi, melukai, mencuri dan tindak
pidana yang lain.
c. Faktor
Penting Adanya Perkelahian Pelajar.
Jika kita sepakat bahwa
perkelahian pelajar menjadi bagian dari kenakalan remaja, termasuk kelainan
perilaku remaja pada umumnya, maka banyak faktor penting adanya perkelahian
pelajar, antara lain:
1. Rational
Choice, yaitu
adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor individu, motivasi, pilihan dan
kemauannya sendiri. Di Indonesia, banyak yang menyetujui pendapat ini, misalnya
anak nakal ditaruh di pesantren, agar imannya mantap, sehingga tidak nakal
lagi.
2. Social
Disorganization,
yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor lingkungan. Berkurangnya
atau hilangnya pranata budaya yang selama ini menopang harmoni sosial. Misalnya
orang tua yang semakin sibuk, melupakan pendidikan anak-anaknya, atau guru yang
terlalu banyak memberikan peer, dan abai dengan bimbingan dan arahannya.
3. Strain, yaitu adanya perkelahian pelajar
disebabkan faktor tekanan yang besar dari masyarakat, misalnya kemiskinan di
satu sisi, sementara di pihak lain orang kaya yang sering mempertontonkan
kekayaannya.
4. Differential
Association,
yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor salah pergaulan. Pelajar
yang terbiasa bergaul dengan pelajar yang tukang tawuran, anak yang malas
belajar, suka mencuri, bolos belajar, maka semua itu menjadi perekat bagi
pelajar yang awalnya baik-baik saja.
5. Labbeling, yaitu adanya perkelahian pelajar
disebabkan faktor terbiasa dicap sebagai pelajar yang nakal. Jika seorang
pelajar sering dilabeli sebagai pelajar nakal oleh banyak pihak, maka label
tersebut merasuk di dalam dada, akibatnya jadilah pelajar yang nakal.
6. Male
Phenomenon,
yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor jenis kelamin, bahwa anak
laki-laki lebih nakal dibanding anak perempuan. Alasannya anak laki-laki,
biasanya lebih nakal, atau besarnya budaya maskulin, sehingga wajar jika anak
laki-laki itu nakal.
d. Ikhtiar
Mencegah Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang, termasuk
perkelahian pelajar, harus segera dihentikan, jangan dianggap remeh dan lumrah,
agar tidak terjadi skala yang lebih besar. Ingat kebakaran besar, dimulai dari
titik api yang kecil. Berikut ini beberapa upaya pencegahan yang dapat
dilakukan, yaitu:
1. Beri
kesempatan yang banyak agar pelajar dapat mengembangkan segala minat, bakat dan
potensinya, sehingga optimal menemukan jati dirinya dan orientasi hidup yang
dituju, serta wujudkan kondisi sekitar yang sehat, aman dan tenteram.
2. Wujudkan
kehidupan keluarga yang harmonis. Hubungan antar keluarga berjalan baik. Jaga
betul keutuhan dan ketenteraman di antara keluarga. Begitu juga, jika anak
berada dalam asrama atau tempat tertentu.
3. Setiap anak
itu unik, bahkan yang lahir kembar sekalipun. Karena itu, jangan membiasakan
menyamaratakan potensi anak, meski dengan saudaranya sendiri, justru itu
menjadi pemicu iri hati. Jika akan mengambil keputusan, bentangkan segala
alternatif yang ada, lalu suruh yang bersangkutan memilih atas kesadaran
sendiri. Itu jalan terbaik dan tepat yang perlu dilakukan.
4. Di samping
faktor keluarga, pengembangan pribadi yang optimal melalui pendidikan di
sekolah, memiliki pengaruh yang besar. Melalui pendidikan yang baik, anak akan
mampu mengontrol gejolak jiwanya, sehingga tidak melampiaskan ke hal-hal yang
tidak perlu.
5. Bentuk
perkembangan pelajar di lingkungan sekolah dengan baik. Sebab, sekolah
berfungsi sebagai sarana pendidikan, bimbingan dan sebagai tempat perlindungan,
jika ada problema yang muncul. Itulah pentingnya Guru BP dan guru senior yang
memiliki banyak pengalaman hidup, sehingga dapat ditransformasikan ke dalam
jiwa anak yang menghadapi masalah.
6. Pentingnya
membentuk banyak organisasi atau lembaga yang mewadahi aktivitas pelajar atau
anak, baik di lingkup sekolah (misalnya OSIS dengan segala sub-unitnya) maupun
di lingkungan tempat tinggal sang pelajar, seperti: Karang Taruna, Majelis
Ta’lim Remaja, Kelompok Belajar dan semacamnya.
7. Melakukan
usaha untuk meningkatkan kemampuan pelajar atau remaja di bidang tertentu
sesuai minat dan bakat masing-masing, sehingga semakin tumbuh kepercayaan
dirinya, karena di mata teman-temannya dia memiliki skill dan keterampilan yang
memadai. Tidak seperti di kebanyakan sekolah yang orientasinya hanya nilai,
angka rapot bagus, atau berapa rangkingnya.
e. Penanganan
Pelajar yang Menyimpang
Minimal ada 5 penanganan terhadap
pelajar yang menyimpang, yaitu:
1.
Kepercayaan. Sang pelajar harus memiliki kepercayaan kepada
pihakpihak yang mau membantunya (wali kelas, guru BP, guru agama, dan lainnya).
Mereka para pelajar yakin akan ditolong dan tidak akan dibohongi. Jika pelajar
itu lebih memilih ‘pihak luar’, ya tidak apa-apa, karena biasanya ‘pihak dalam’
ada kepentingan lain atau tidak tulus untuk menolongnya.
2.
Kemurnian Hati. Pelajar itu sudah percaya bahwa penanganan ini
tidak bersyarat. Buat pelajar atau remaja, urusan membantu, ya membantu saja.
Tidak perlu ditambahi, “tetapi tetapi”. Sebab itu, pelajar lebih mempercayai
teman-temannya sendiri, jika menghadapi problema, meski terkadang nasehatnya
tidak utuh dan solusinya bersifat parsial atau sepotong-potong.
3.
Kemampuan mengerti dan menghayati (empathy) perasaan
pelajar atau remaja.
Disebabkan posisi yang berbeda antara anak (pelajar) dengan orang dewasa (orang
tua, guru), sulit bagi orang dewasa berempati kepada pelajar, karena
kepentingan yang susah dikalahkan. Biasanya orang dewasa merasa lebih unggul
dan kurang menghargai posisi pelajar.
4.
Kejujuran.
Ini penting dilakukan, karena sang pelajar ingin keterbukaan, termasuk sanksi
yang diterima, meskipun tidak menyenangkan. Katakan yang benar itu benar.
Sebaliknya, yang salah itu salah. Jangan sampai terjadi, ini salah bagi
pelajar, sementara bagi orang dewasa itu benar. Jika ini yang terjadi, maka
runtuhlah kepercayaan pelajar kepada orang dewasa.
5.
Mengutamakan persepsi pelajar sendiri. Pelajar itu akan memandang
persoalan dari sudut pandangnya sendiri. Terlepas dari kenyataan yang ada, sang
pelajar akan bereaksi sesuai sudut pandangnya sendiri. Karena itu, kemampuan
untuk memahami pandangan pelajar, sangat berarti untuk membangun empati
terhadap pelajar atau remaja.
Berdasarkan semua
paparan tersebut, Islam mengambil sudut pandang yang berbeda tentang
perkelahian pelajar. Kuncinya kepada posisi balig, jika seseorang itu sudah
balig, maka semua perbuatanya (baik dan buruk) menjadi tanggung jawabnya. Tidak
seperti hukum positif di Indonesia, yang biasanya sanksi atas perbuatan
dikenakan jika usianya antara 17 atau 18 tahun.
Sebab itu, sejak
dini Islam mengarahkan orang tua agar membimbing dan mendidik puta putrinya
sejak kecil tentang al-ahkamul al-khamsah, yakni 5 hukum, meliputi: wajib,
sunnah, mubah, makruh dan haram. Melalui jalan tersebut, sejak kecil anak-anak
diajarkan untuk tidak melakukan tindak kekerasan, termasuk perkelahian atau
tawuran pelajar. Ajaran Islam dengan tegas tidak pernah mengajarkan kekerasan
(anarkis).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar